Hanya Masa Lalu

Ku kira kau sudah dapat melihat betapa berbinarnya mataku saat menatapmu
Ku kira kau sudah dapat mendengar puisi-puisi cinta yang aku bacakan di mimpi-mimpi indah bersamamu
Ku kira jiwamu, senyummu, dan kebaikanmu bercahaya untukku
Oh Tuhan, aku salah!
Aku salah besar tentang itu semua!
Tak dapat aku berpijak bila awan di mataku mulai mendung
Hatiku terpekik… jauh ke dalam nuansa hatimu
Kosong dan hampa, hanya itu yang aku rasakan
Kau t’lah kehilangan
Seseorang yang sangat berarti bagimu
Seseorang yang telah berhasil mengubah takdir hidupmu
Seseorang yang menarikmu kembali pada masa lalu
Dan seseorang itu bukan aku
Tak mungkin kau rindukan aku
Jika aku saja selalu berada di setiap harimu
Tak mungkin kau mengingatku
Sedang aku saja selalu berusaha ada untukmu
Kau tak ingat aku, namun aku mengingatkanmu padanya
Mungkin dia telah terpisah terlalu jauh denganmu
Mungkin wajahnya sudah mulai samar dalam ingatanmu
Dan mungkin… kau tak pernah berarti dalam hidupnya
Sekali lagi aku katakan, “Dia hanya masa lalu.”
Debu itu t’lah pergi, jangn berusaha mencarinya kembali
Di saat serpihan debu yang pernah berarti itu t’lah tertiup angin malam..
Pasti akan datang awan putih yang lembut, yang akan membawamu pada masa depan
Sekalipun aku tahu, kau takkan bisa lupakan debu itu
Namun debu itu telah menghilang ditelan waktu
Aku datang, aku di sini untuk itu
Untuk memberikan pelajaran hidup yang lebih berarti daripada sekedar masa lalu
Aku akan tetap berada di belakangmu
Mencoba menggapai tempat yang pantas dalam lubuk hatimu
Mencoba untuk mengisi hari-harimu dengan senyuman dan tawa
Bukan hanya dengan petikan gitar yang melantunkan lagu sendu
Aku akan tunjukkan bahwa dunia begitu luas, begitu indah
Seseorang yang berarti tidak hanya satu
Hari harus diisi, bukan ditutup dan dibiarkan kosong
Ya, aku yang akan tunjukkan itu padamu

Senyuman Malaikat

Terasa jauh…
Tak terlihat dan tak tersentuh
Aku hanya dapat mematung
Di saat bola mata kita bertemu
Bola matamu selalu pancarkan sinar
Sekalipun saat itu gelap selimuti atmosfer kita

Takkan pernah terlewatkan
Kehadiran sesosok malaikat di mimpi indahku
Terang.. sinarmu mampu kalahkan cahaya bulan sabit
Alunan detak jantungmu…
Aku dengar di tengah kesunyian malam
Malaikat itu tak pernah berada jauh dariku

Begitu terang dan bercahaya…
Dari kejauhan pun hatiku t’lah dapat merasakannya
Semakin dekat, dan akhirnya…
Aku lihat jelas wajahmu, malaikat
Bercahaya dan terus tersenyum dengan begitu tulus
Jarak yang sepintas ini silaukan mataku

Senyuman malaikat tak mampu bawaku terbang
Itu hanya… membuatku tak bisa menghirup udara
Sesak, jantungku berpacu begitu kencang
Senyuman malaikat hanya mampu buatku terpaku
Kau, malaikatku… senyummu…
Mampu kembangkan senyumku hingga bersinar seterang jiwamu

Cinta Yang Sederhana

Mengapa tak pernah kusadari?
Bahwa bulan sabit bersinar begitu indah
Mengapa tak pernah kutanggapi?
Kehadiran seseorang yang mampu bersinar lebih terang dari bulan sabit
Rasa itu begitu cepat berubah
Waktu pun begitu cepat berlalu
Masa-masa yang akan indah itu t’lah menjadi senandung masa lalu
Di saat nyanyianku dan petikan gitarmu…
Menjadi satu dan terdengar begitu indah
Di saat aku mengepalkan tangan dan raut wajah cerminkan amarahmu
Kita menjadi satu
Walau berada di garis kebencian
Dan di saat aku menghirup udara,
dimana kau melangkah di sampingku, bersamaku

Cukup sederhana untuk mencintaimu
Cukup saja melihat sinar yang terpancar dari jiwamu
Cukup saja kedua bola mata kita saling bertemu
Cukup saja mengukir masa lalu indah yang tak pernah kunikmati
Aku tak ingin lontarkan perasaanku ini
Karena aku tahu, rasa itu juga tak bisa seketika muncul pada dirimu

Tatap mataku, dan hanya itu yang aku butuhkan
Saat kau hadir di mimpiku…
Bulan sabit, semilir angin malam, dan puisi tentang cinta yang sederhana
Akan tetap satu, dan hanya satu yang aku tahu
Aku mencintaimu dengan sederhana

Mimpi Indah

Di suatu malam…
Di suatu hamparan rumput hijau tiada akhir…
Dua pasang putri dan pangeran melantunkan lagu-lagu indah tentang cinta
Dua orang pangeran memetik gitar,
Dua putri pujaan mereka mengeluarkan suara emas
Mereka… bahagia

Di suatu malam…
Di situasi yang menyakitkan, menyerang tubuh lemahku
Aku terbaring dengan menggenggam harapanku tentang dirimu
Aku tahu, mungkin kau pun tak peduli dengan semua ini
Karena kau tak pernah tahu
Hanya satu hal yang dapat buatku tersenyum di saat ku merasakan kesakitan
Hal itu adalah di saat aku memejamkan mata
Karena saat itu, aku bisa melihat jelas dirimu… tersenyum padaku

Mimpi-mimpi indah itu bahkan masuk ke dunia nyataku
Hingga aku tersadar bahwa dua dunia itu berbeda
Namun kau selalu tampak nyata di keduanya
Tak bisa kupungkiri, harapanku makin melambung
Dan kepercayaanku semakin kuat menarikku pada hatimu

Walau kau tak lakukan apa-apa
Namun mimpi indahku yang munculkan rasa itu
Kuharap, mimpi indah itu benar-benar isyarat dari hatimu
Sekalipun kau tak ingin perlihatkan rasamu pada dunia

Bukan Pangeranku

Lelah, aku terus menanti kedatanganmu bersama kuda putih itu
Selalu kucoba ‘tuk bersabar walau sesungguhnya batin ini tersiksa,
kau tak hiraukan hadirku
Memang harapanku tak sedikit pun memudar,
karena kau berikan janji untuk kembali
Walau janji itu kau ucapkan hanya dalam mimpi indahku
Salahku yang terlalu mengaharap cinta darimu
Terlanjur sudah ku berikan hatiku untukmu
Namun kau kembalikan itu dalam keadaan hancur bersisa kepedihan
Rasanya aku pun mulai membenci diriku yang bodoh ini!
Aku tlah merelakan banyak waktu untuk menanti kedatanganmu
Buat apa jika kini kau pun berjalan semakin jauh dan mencoba gapai cinta putri dari kerajaan lain?
BODOH!
Ingin rasanya ku teriakkan itu di depan wajah dinginmu!
Apakah kau tak pernah sadar akan kehadiranku?
Apakah kau sengaja hanya ingin permainkan hatiku?
Atau mungkin… kau hanya pangeran palsu yang berusaha racuni otakku dengan semua hal tentangmu?

Jika mimpi-mimpiku berbicara semua hal baik tentang dirimu… aku bahagia.
Dan jika dunia nyata tunjukkan kesakitan yang kini aku rasakan… aku rela.
Mungkin benar apa kata peri-peri itu…
Kau tidak pantas untukku,
Karena kau bukanlah pangeranku

Pangeran Salju

Tidakkah ia menyadari?
Setiap aku menghirup udara segar di luar ruangan,
dan setiap aku membawa lelah di dalam nyawaku,
aku slalu menunggu kehadirannya
Tak apa walau ia hanya sekedar melintas
Aku tetap dapat menikmati suatu keindahan dari dalam dirinya
Walau hanya dalam hitungan detik,
keindahan itu akan semakin jauh dan lenyap

Tidakkah ia menyadari?
Begitu banyak pangeran yang meminta hatiku,
namun tak pernah aku hiraukan
Karena begitu jelas hanya satu bayangan yang dapat menukar hatiku
Itulah sesosok pangeran dingin
yang mempunyai hati berselimut salju
Terlalu cepat ia datang dan kemudian pergi tinggalkanku
Terlalu lama pula ia buatku menunggu dan biarkan hatiku membeku

Dingin. Hampa. Kelam.
Itulah yang aku rasakan sebelum dia datang selamatkan jiwaku
Ia goreskan warna-warna cerah di atas kanvas hidupku
Namun kini warna-warna cerah itu telah memudar,
semakin samar dan berubah menjadi hitam
Entah apa yang aku rasakan setiap aku terjerat dalam bola matamu yang melukiskan banyak arti
Aku… kecewa.

Aku pun akhirnya hanya dapat menghindar dan bersembunyi,
setiap tapak kuda putihmu terdengar dekat
Aku dapat lakukan apa yang telah kau lakukan padaku
Biarlah kau rasakan hidup ini sendirian
Karena kini aku telah putuskan ‘tuk usaikan penantianku
Untuk apa aku terlalu lama duduk manis di sini?
Jika hanya untuk menanti kehadiran sesosok pangeran berhati salju?
Yang pada akhirnya sakiti aku, karena ia telah pergi tinggalkanku sendiri

Duniaku Belum Berakhir

Sudah sekian lama aku terperangkap dalam permainan cintamu
Permainan cinta yang begitu indah
Hingga buatku menjadi buta
Bulan masih setia bersinar, namun hatiku tetap gelap
Mencoba untuk tetap berpijak dalam palsunya rayuanmu
Degup jantungku terdengar berkejaran
Aku baik-baik saja
Ya, aku tegar hadapi cobaan ini
Air mata tak ada yang mencoba jatuh satu tetes pun
Justru senyum ini semakin mengembang
Terdengar menyakitkan,
tetapi aku berdiri dengan penuh keyakinan
DUNIAKU BELUM BERAKHIR!
Cinta palsumu takkan mampu menghentikan mimpi-mimpiku yang semakin tinggi!
Cinta palsumu hanya kenangan busuk yang kan segera ku bakar dari memori hidupku!
Kisah tentangmu hanyalah sebatas pelajaran yang kan menjadi panutan dalam hidupku
Pengertian dan kesabaran,
ya, itu yang selalu kau uji padaku

Pelajaran Tentang Cinta

Ku telah mengubah semua sifat burukku
Egois telah ku ubah menjadi pengertian,
tangis ku ubah menjadi senyuman,
amarah ku ubah menjadi kesabaran
Dan apakah kau tahu mengapa aku lakukan semua itu?
Aku lakukan itu karenamu
Aku mencoba selami tikungan-tikungan tajam
dalam perjalanan hidupmu
Mencoba tapaki duri-duri hina masa lalumu
Mencoba beradaptasi dengan hawa di hatimu
yang begitu cepat berubah
Tak selalu kau membalas kerja kerasku itu dengan kebahagiaan
Justru seringkali kau membuatku menahan segala emosi
Memaksaku untuk selalu tersenyum,
walau sesungguhnya itu sangat menyakitkan
Kau begitu mudah membuatku terbang jauh dihembus angin,
tetapi kau pun begitu cepat menghempasku ke tanah
Terkadang aku merasa lelah,
dan selalu berpikir, “Apakah ini hanya permainan cinta?”
Entah mengapa, kesabaran, pengertian, dan senyumanku
terus membantah dan memerintahku
untuk tetap menyimpan dirimu di dalam permata hati
Mereka tahu bahwa aku merasakan sakit yang begitu hebat
Tetapi mengapa mereka seakan menahanku agar tetap bertahan?
Apakah ini hanya sebuah ujian di awal perjuanganku?
Aku tidak akan mengeluh,
dan aku tidak akan diam pertanda aku menyerah
namun aku akan berdiri,
dan berteriak pada dunia, “Aku lebih tegar sekarang!”
Aku yakin, suatu hari nanti senyuman tulusku akan hadir
dari hatiku yang masih setia menyimpan permata hati milikmu

Malam Ini

Mengapa malam ini terasa begitu sesak di sela-sela tulang rusukku?
Sesak, sesak karena emosiku bercampur di sini
Di satu aliran darah, di satu sudut pandang mata, di satu bentuk hati yang mulai hancur
Percuma saja ku teriakkan semua emosiku sore tadi
Ku berdandan layaknya setan yang diseret ke dalam neraka
Mataku berkantung, semakin jelas berwarna hitam
Bibirku merah karena lipstik ibu yang aku oleskan tak beraturan
Dada yang sesak ini takkan mampu menampung lebih banyak perkara lagi
Tanpa dia dan mereka di sisiku,
takkan ada yang pernah mengerti
Karena apa yang kurasakan tak dapat aku keluarkan
Lidah ini terasa pilu untuk mengukir kalimat-kalimatnya
Mata ini pun berusaha tegar membendung tetes-tetes air emosinya
Mengapa Tuhan begitu cepat mengubah keadaan?
Mengapa Tuhan begitu cepat mengambil kebahagiaanku?
Pada siapakah aku bertanya sekarang?
Takkan ada yang ingin jawab pertanyaanku
Kebahagiaan itu terlalu cepat pergi
Hingga kini tak ada satu pun senyuman yang tersisa di wajahku

Sekali lagi akan ku tumpahkan segala perasaan di satu judul puisi ini
Malam ini aku hanya sendirian,
namun masih saja Tuhan memberikan anugerah-Nya padaku
Setelah aku berkeluh kesah dan bertanya tanpa malu di hadapan-Nya
Walau ia hanya seorang diri, seorang sahabat tetap menjadi obat di saat aku terluka
Ia dengarkan ceritaku dan berusaha memberikan solusi terbaik
Ia ajarkan aku tentang bagaimana Tuhan memberikan cobaan dan anugerah kepadaku
Ia terdiam sejenak, untuk memikirkan suatu hal yang dapat membuatku tertawa
Dan dia dapatkan itu, kini hatiku mulai tenang
Aku lelah karena selalu saja bohongi diriku dengan mengatakan, “Aku baik-baik saja.”
Namun kini aku tahu bagaimana harus selesaikan semuanya
Aku tahu bagaimana mengeluarkan gejolak emosi ini
Hanya dengan satu cara
Yaitu dengan memberikan senyumku pada semua masalah itu
dan mereka pun akan lenyap ditelan kebahagiaan

Tengah malam ini aku tersenyum, dan bersyukur ikhlas di dekapan peluk-Nya

Terima Kasih

Kesunyian di malam itu masih terdengar jelas di telingaku
Takkan bisa ku lupakan detik demi detik langkah pertama
yang kau pijakkan di atas hamparan hidupku
Rasanya begitu damai
Angin pun membelai kulitku secara lembut
Takkan pernah lenyap suasana hangat itu
Di saat dirimu datang kuatkan diriku yang rapuh,
diriku yang tak tahu kemana arah untuk menuju kebahagiaan
Kau datang ‘tuk hapus air mataku,
kau datang bagaikan pelangi yang senantiasa mengindahkan bumi
setelah langit gelap mengiringi turunnya tetes-tetes air hujan
Tak habis kita bercerita tentang berbagai hal
Hingga tak terasa, jarum jam dinding tlah mengarah ke angka dua
Ya, saat itu pukul dua pagi
dan kita tak henti-hentinya bersenda gurau,
bertukar cerita lucu tentang kehidupan yang sederhana ini
Kita tertawa bersama,
seolah kita telah akrab sejak bertahun-tahun yang lalu
namun kenyataannya,
kau baru memasuki duniaku tiga jam yang lalu
Entahlah apa yang sedang terjadi pada waktu itu?
Aku pun menyimpan tanda tanya tersendiri
Karena se-tahuku, kau adalah lelaki yang dikenal dingin dan segan terhadap semua perempuan
Namun mengapa kita bisa?
Jujur saja, pertanyaan itu tak pernah bisa luput dari otakku sampai detik ini sekalipun

Terima kasih, Tuhan..
Kau telah datangkan seseorang yang amat berharga untuk hidupku
Seseorang yang ditakdirkan untuk memberi warna cerah dalam kelamnya duniaku
Seseorang yang dengan ikhlas mendengar semua ocehanku, kolaborasi dari berbagai emosi
Seseorang yang dengan mudahnya tertawa
karena mendengar cerita-ceritaku
Aku bahagia, selama kau ada di sisiku
Terima kasih,

« Older entries