Bukan Pangeranku

Lelah, aku terus menanti kedatanganmu bersama kuda putih itu
Selalu kucoba ‘tuk bersabar walau sesungguhnya batin ini tersiksa,
kau tak hiraukan hadirku
Memang harapanku tak sedikit pun memudar,
karena kau berikan janji untuk kembali
Walau janji itu kau ucapkan hanya dalam mimpi indahku
Salahku yang terlalu mengaharap cinta darimu
Terlanjur sudah ku berikan hatiku untukmu
Namun kau kembalikan itu dalam keadaan hancur bersisa kepedihan
Rasanya aku pun mulai membenci diriku yang bodoh ini!
Aku tlah merelakan banyak waktu untuk menanti kedatanganmu
Buat apa jika kini kau pun berjalan semakin jauh dan mencoba gapai cinta putri dari kerajaan lain?
BODOH!
Ingin rasanya ku teriakkan itu di depan wajah dinginmu!
Apakah kau tak pernah sadar akan kehadiranku?
Apakah kau sengaja hanya ingin permainkan hatiku?
Atau mungkin… kau hanya pangeran palsu yang berusaha racuni otakku dengan semua hal tentangmu?

Jika mimpi-mimpiku berbicara semua hal baik tentang dirimu… aku bahagia.
Dan jika dunia nyata tunjukkan kesakitan yang kini aku rasakan… aku rela.
Mungkin benar apa kata peri-peri itu…
Kau tidak pantas untukku,
Karena kau bukanlah pangeranku

Pangeran Salju

Tidakkah ia menyadari?
Setiap aku menghirup udara segar di luar ruangan,
dan setiap aku membawa lelah di dalam nyawaku,
aku slalu menunggu kehadirannya
Tak apa walau ia hanya sekedar melintas
Aku tetap dapat menikmati suatu keindahan dari dalam dirinya
Walau hanya dalam hitungan detik,
keindahan itu akan semakin jauh dan lenyap

Tidakkah ia menyadari?
Begitu banyak pangeran yang meminta hatiku,
namun tak pernah aku hiraukan
Karena begitu jelas hanya satu bayangan yang dapat menukar hatiku
Itulah sesosok pangeran dingin
yang mempunyai hati berselimut salju
Terlalu cepat ia datang dan kemudian pergi tinggalkanku
Terlalu lama pula ia buatku menunggu dan biarkan hatiku membeku

Dingin. Hampa. Kelam.
Itulah yang aku rasakan sebelum dia datang selamatkan jiwaku
Ia goreskan warna-warna cerah di atas kanvas hidupku
Namun kini warna-warna cerah itu telah memudar,
semakin samar dan berubah menjadi hitam
Entah apa yang aku rasakan setiap aku terjerat dalam bola matamu yang melukiskan banyak arti
Aku… kecewa.

Aku pun akhirnya hanya dapat menghindar dan bersembunyi,
setiap tapak kuda putihmu terdengar dekat
Aku dapat lakukan apa yang telah kau lakukan padaku
Biarlah kau rasakan hidup ini sendirian
Karena kini aku telah putuskan ‘tuk usaikan penantianku
Untuk apa aku terlalu lama duduk manis di sini?
Jika hanya untuk menanti kehadiran sesosok pangeran berhati salju?
Yang pada akhirnya sakiti aku, karena ia telah pergi tinggalkanku sendiri

Duniaku Belum Berakhir

Sudah sekian lama aku terperangkap dalam permainan cintamu
Permainan cinta yang begitu indah
Hingga buatku menjadi buta
Bulan masih setia bersinar, namun hatiku tetap gelap
Mencoba untuk tetap berpijak dalam palsunya rayuanmu
Degup jantungku terdengar berkejaran
Aku baik-baik saja
Ya, aku tegar hadapi cobaan ini
Air mata tak ada yang mencoba jatuh satu tetes pun
Justru senyum ini semakin mengembang
Terdengar menyakitkan,
tetapi aku berdiri dengan penuh keyakinan
DUNIAKU BELUM BERAKHIR!
Cinta palsumu takkan mampu menghentikan mimpi-mimpiku yang semakin tinggi!
Cinta palsumu hanya kenangan busuk yang kan segera ku bakar dari memori hidupku!
Kisah tentangmu hanyalah sebatas pelajaran yang kan menjadi panutan dalam hidupku
Pengertian dan kesabaran,
ya, itu yang selalu kau uji padaku

Pelajaran Tentang Cinta

Ku telah mengubah semua sifat burukku
Egois telah ku ubah menjadi pengertian,
tangis ku ubah menjadi senyuman,
amarah ku ubah menjadi kesabaran
Dan apakah kau tahu mengapa aku lakukan semua itu?
Aku lakukan itu karenamu
Aku mencoba selami tikungan-tikungan tajam
dalam perjalanan hidupmu
Mencoba tapaki duri-duri hina masa lalumu
Mencoba beradaptasi dengan hawa di hatimu
yang begitu cepat berubah
Tak selalu kau membalas kerja kerasku itu dengan kebahagiaan
Justru seringkali kau membuatku menahan segala emosi
Memaksaku untuk selalu tersenyum,
walau sesungguhnya itu sangat menyakitkan
Kau begitu mudah membuatku terbang jauh dihembus angin,
tetapi kau pun begitu cepat menghempasku ke tanah
Terkadang aku merasa lelah,
dan selalu berpikir, “Apakah ini hanya permainan cinta?”
Entah mengapa, kesabaran, pengertian, dan senyumanku
terus membantah dan memerintahku
untuk tetap menyimpan dirimu di dalam permata hati
Mereka tahu bahwa aku merasakan sakit yang begitu hebat
Tetapi mengapa mereka seakan menahanku agar tetap bertahan?
Apakah ini hanya sebuah ujian di awal perjuanganku?
Aku tidak akan mengeluh,
dan aku tidak akan diam pertanda aku menyerah
namun aku akan berdiri,
dan berteriak pada dunia, “Aku lebih tegar sekarang!”
Aku yakin, suatu hari nanti senyuman tulusku akan hadir
dari hatiku yang masih setia menyimpan permata hati milikmu

Malam Ini

Mengapa malam ini terasa begitu sesak di sela-sela tulang rusukku?
Sesak, sesak karena emosiku bercampur di sini
Di satu aliran darah, di satu sudut pandang mata, di satu bentuk hati yang mulai hancur
Percuma saja ku teriakkan semua emosiku sore tadi
Ku berdandan layaknya setan yang diseret ke dalam neraka
Mataku berkantung, semakin jelas berwarna hitam
Bibirku merah karena lipstik ibu yang aku oleskan tak beraturan
Dada yang sesak ini takkan mampu menampung lebih banyak perkara lagi
Tanpa dia dan mereka di sisiku,
takkan ada yang pernah mengerti
Karena apa yang kurasakan tak dapat aku keluarkan
Lidah ini terasa pilu untuk mengukir kalimat-kalimatnya
Mata ini pun berusaha tegar membendung tetes-tetes air emosinya
Mengapa Tuhan begitu cepat mengubah keadaan?
Mengapa Tuhan begitu cepat mengambil kebahagiaanku?
Pada siapakah aku bertanya sekarang?
Takkan ada yang ingin jawab pertanyaanku
Kebahagiaan itu terlalu cepat pergi
Hingga kini tak ada satu pun senyuman yang tersisa di wajahku

Sekali lagi akan ku tumpahkan segala perasaan di satu judul puisi ini
Malam ini aku hanya sendirian,
namun masih saja Tuhan memberikan anugerah-Nya padaku
Setelah aku berkeluh kesah dan bertanya tanpa malu di hadapan-Nya
Walau ia hanya seorang diri, seorang sahabat tetap menjadi obat di saat aku terluka
Ia dengarkan ceritaku dan berusaha memberikan solusi terbaik
Ia ajarkan aku tentang bagaimana Tuhan memberikan cobaan dan anugerah kepadaku
Ia terdiam sejenak, untuk memikirkan suatu hal yang dapat membuatku tertawa
Dan dia dapatkan itu, kini hatiku mulai tenang
Aku lelah karena selalu saja bohongi diriku dengan mengatakan, “Aku baik-baik saja.”
Namun kini aku tahu bagaimana harus selesaikan semuanya
Aku tahu bagaimana mengeluarkan gejolak emosi ini
Hanya dengan satu cara
Yaitu dengan memberikan senyumku pada semua masalah itu
dan mereka pun akan lenyap ditelan kebahagiaan

Tengah malam ini aku tersenyum, dan bersyukur ikhlas di dekapan peluk-Nya

Terima Kasih

Kesunyian di malam itu masih terdengar jelas di telingaku
Takkan bisa ku lupakan detik demi detik langkah pertama
yang kau pijakkan di atas hamparan hidupku
Rasanya begitu damai
Angin pun membelai kulitku secara lembut
Takkan pernah lenyap suasana hangat itu
Di saat dirimu datang kuatkan diriku yang rapuh,
diriku yang tak tahu kemana arah untuk menuju kebahagiaan
Kau datang ‘tuk hapus air mataku,
kau datang bagaikan pelangi yang senantiasa mengindahkan bumi
setelah langit gelap mengiringi turunnya tetes-tetes air hujan
Tak habis kita bercerita tentang berbagai hal
Hingga tak terasa, jarum jam dinding tlah mengarah ke angka dua
Ya, saat itu pukul dua pagi
dan kita tak henti-hentinya bersenda gurau,
bertukar cerita lucu tentang kehidupan yang sederhana ini
Kita tertawa bersama,
seolah kita telah akrab sejak bertahun-tahun yang lalu
namun kenyataannya,
kau baru memasuki duniaku tiga jam yang lalu
Entahlah apa yang sedang terjadi pada waktu itu?
Aku pun menyimpan tanda tanya tersendiri
Karena se-tahuku, kau adalah lelaki yang dikenal dingin dan segan terhadap semua perempuan
Namun mengapa kita bisa?
Jujur saja, pertanyaan itu tak pernah bisa luput dari otakku sampai detik ini sekalipun

Terima kasih, Tuhan..
Kau telah datangkan seseorang yang amat berharga untuk hidupku
Seseorang yang ditakdirkan untuk memberi warna cerah dalam kelamnya duniaku
Seseorang yang dengan ikhlas mendengar semua ocehanku, kolaborasi dari berbagai emosi
Seseorang yang dengan mudahnya tertawa
karena mendengar cerita-ceritaku
Aku bahagia, selama kau ada di sisiku
Terima kasih,

Inikah Cinta?

Di saat bola mata kita saling bertemu,
ku dapat lihat senyum manis itu selalu, di setiap hariku
Di saat tawa muncul di wajah kita,
kita takkan lupa tuk saling membaginya
Di kala kesedihan dan kehilangan itu ada,
mengapa kita slalu merasakannya bersama?
Kita tertawa dan menangis, kita rasakan itu semua bersama
Perhatianmu sanggup luluhkan kekesalanku
Genggaman tanganku mampu kuatkan jiwamu
Aku pun tak mengerti, apa yang sesungguhnya terjadi dalam hidupku?
Ada sesuatu yang telah mengubah mimik di wajahku,
begitu pula dengan ekspresi dalam hatiku
Sungguh, aku tak tahu apa yang telah mengubah diri ini?
Seakan aku hanya ingin tertawa, bernyanyi,
dan melihat semua orang bahagia
Apakah ini cinta?
Mengapa aku slalu merasa bahagia bila di dekatmu?
Mungkinkah aku bisa hapus jejak-jejak cinta ini bila ternyata ku salah?

Puisi Untuk Sahabat

Sahabat tak dapat ku definisikan hanya dalam beberapa kata
Karena sahabat itu mencangkup segala sesuatu dalm perjalanan hidupku
Sahabat adalah tawa
Tawa yang slalu bergema di koridor sekolah,
tawa yang slalu muncul ceria di wajahku,
dan tawa yang tak pernah lelah temani setiap sepiku
Sahabat adalah pahlawan
Pahlawan yang datang melindungiku di saat aku takut
dan tak tahu kemana harus melangkah,
pahlawan yang selamatkan tetes-tetes air mataku
agar tak tumpah lebih banyak,
pahlawan yang selalu berdiri tegak halangi aku dari kejamnya kemunafikan
Sahabat kan slalu ada tuk menjadi tempatku bersandar,
di saat dunia telah membuat jiwaku menjadi rapuh
Sahabat selalu ada, di saat aku merasakan segalanya
Dan kita akan terus mengukir cerita-cerita hidup kita bersama
Tak mengapa bila nanti waktu dan jarak memisahkan kita,
karena persahabatan kita takkan bisa terhapus oleh apapun

Jejak Yang Hilang

Tak terasa, ternyata sudah begitu lama
kita merajut benang kehidupan bersama
Menggoreskan setiap kesenangan ataupun kesedihan
di atas halaman-halaman kasih sayang
Mengapa waktu berjalan begitu cepat
dan mengubah keadaan berharga ini?
Benang yang kita rajut telah kusut
dan ukiran tinta-tinta pun telah memudar
Ingin rasanya ku teriakkan kemarahanku ini pada dunia!
Ini kejam! Ini tidak adil untukku!
Hujan pun tak henti memperhatikanku dari setiap sudut
Seolah tetes-tetes air suci itu berbisik, “Ada apa? Ada apa?”
Aku telah kehilangan
Bagaimana aku bisa bertahan hidup tanpa dia?
Dia yang slalu ada di setiap hariku
Sejak bertahun-tahun lalu, dan kini ini semua harus berakhir!
Ini pun karena ulah bodoh kami layaknya anak kecil
Tak ada satu pun harapan yang tersisa
Semuanya sirnah, sirnah!
Hey, kau laki-laki yang kini hilangkan jejak dalam hidupku!
Mengapa kau masih membisu?
Mengapa kau genggam tanganku,
namun mulutmu tak mengeluarkan sepatah kata pun?
Apakah kau tak sadar apa yang telah kau putuskan?
Kau katakan, “Ini semua berakhir.”
Ya, berakhir sampai di sini

Perubahan

Mengapa begitu banyak orang yang takut akan hal itu?
Termasuk aku, aku takut karena perubahan terjadi begitu tiba-tiba
Di saat roda kehidupan berputar,
yang di atas pasti akan merasakan kebahagiaan
dan yang di bawah pun pasti takkan bisa bisa lari dari kesengsaraan
Di saat benang kusut harus digunting,
di saat hujan sore hari menyaksikan kenangan-kenangan itu ditelan oleh perubahan, banyak tetes air mata berjatuhan
namun setelah itu, senyuman pun akan kembali pada hidup
Perubahan tidak seharusnya kita takuti
karena perubahan positif kan menjadikan kita lebih baik
Lebih baik dari dari masa lalu
Dan janganlah kamu mau diseret oleh perubahan negatif yang kan membawamu pada kehancuran
Perubahan pada hidup kan membuka lembaran baru untuk kehidupan yang lebih baik

« Older entries